Friday, December 24, 2010
Ageng Selo
Monday, December 6, 2010
Alea Venoa
asyik, bahasanya enak, ngalir, dan isinya pas banget sama judulnya
mem-PROVOKASI sekali!!
try to read it!
http://www.goodreads.com/book/show/6564893-provokasi
Desitri Widyaningrum
http://www.goodreads.com/book/show/6564893-provokasi
Aditya Kusuma
Monday, November 29, 2010
TRIBUNNEWS.COM
"Kata-kata, apa sih yang ada di kepala kita saat itu. Setiap keputusan yang mengubah itu, bagaimana kita memberi arti kepada setiap kejadian yang kita alami," ungkapnya, dalam peluncuran dan bedah buku, di TB Gramedia Matraman, Jakarta, Sabtu (16/10/2010).
Ia menyatakan bahwa dalam hidup sehari-hari terdapat banyak kata-kata dan simbol yang harus diartikan oleh pikiran manusia.
"Arti simbol atau kata harus diartikan oleh pikiran dengan baik atas "kata" dari bunyi. Arti itu kita berikan berdasarkan pengalaman kita di masa lalu," ujarnya.
Sementara itu, Prie GS, penulis buku yang turut menjadi nara sumber dalam bedah buku tersebut, mengatakan hal yang senada.
"Sebelum kata menjadi mantra itu, seharusnya terlebih dahulu, tindakan yang sudah ada di bawah sadar telah menjadi mantra," tegasnya.
Seperti dicontohkannya, bahwa saat dirinya hendak ke tempat peluncuran ini, imbuhnya, di bandara ia lama menunggu jemputan temannya. Satu setengah jam menanti, membuat dirinya sangat menikmati setiap perbincangan dan pengartian oleh pikirannya.
"Saya menikmati rekreasi pikiran saya saat berbincang-bincang dengan supir taksi di bandara. Saya sangat menikmati kebingungannya, atas pertanyaan-pertanyaan dirinya melihat saya yang lama menanti jemputan," kata dia.
Semua itu. ujarnya, sangat dinikmatinya. Sehingga ketika dirinya harus marah karena jemputan terlambat, cukup lama sekitar lebih 1,5 jam, namun dirinya menikmati dengan benar-benar dan itu menurutnya menafsirkan peritiwa hidup itu, alhasil dirinya menjadi terhibur.
Sunday, November 14, 2010
Portal HR
Mantra, Mengubah Nasib dengan Kata
- Judul Buku: Provokasi 2 Mantra
- Pengarang: Prasetya M. Brata
- Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
- Jumlah halaman:
- Penulis Resensi: Nani Maria Dewi
Penulis bernama lengkap Prasetya Maytrea Brata ini mengatakan, ide awal membuat buku ini karena ia suka memprovokasi teman-teman Facebook-nya untuk bertanggung jawab memaknai kata-kata dalam situs mereka. “Hidup mereka diribetkan dengan pikiran-pikiran mereka sendiri akibat membaca status-status di Facebook,” serunya.
Dalam acara peluncuran buku yang dihadiri Prie GS, Sang Penggoda Indonesia, laki-laki yang akrab disapa Pras ini menyampaikan cara memaksimalkan kata-kata agar menghasilkan sesuatu yang positif dan berguna.
Pras mengatakan bahwa ia sudah menghentikan orang untuk menggunakan kata-kata positif dan negatif. Menurutnya, kadangkala kata-kata negatif justru membuat seseorang “bangun” dan tidak selamanya kata-kata positif itu berdampak positif. Yang penting, “Selalu menggunakan kata-kata yang memberdayakan dan membangun, bukan yang men-disempowerment atau merusak,” tuturnya.
Ada nuansa yang berbeda dan kontroversial dalam tulisan Pras, seolah-olah menantang arus pemikiran pada umumnya. Hal ini yang membuat Pras dijuluki sang provokator. Gaya penulisannya dan konten-konten yang inspiratif membuat pembaca tidak bosan dan ikut terprovokasi. “Buku ini cukup ringan, berisi tentang berbagai hal untuk memotivasi dan memprovokasi dalam kehidupan sehari-hari. Banyak sekali kejutan dan sangat inspiratif. Saya salah satu pembaca yang menantikan kelanjutan buku Provokasi, jadi mudah-mudahan karya Pras yang kedua ini memuaskan,” ungkap Nila, mahasiswa, pembaca buku Provokasi yang turut menghadiri launching Provokasi 2.
Buku Provokasi 2 tidak memiliki sisi analisis ilmiah. Kontemplasi Pras sebagai penulis terhadap berbagai pengalaman hidupnya adalah tema sentral buku ini dan menjadi kekuatannya, yakni mengubah tacit knowledge milik Pras menjadi explicit knowledge yang bisa dinikmati bersama.
Selama ini Pras dikenal sebagai dosen Program Magister Manajemen FE-UI, trainer mind management & hypnosis dalam aplikasinya untuk pengembangan diri dan bisnis, praktisi hypnotherapy yang berafiliasi kepada Indonesian Society of Clinical Hypnosis, Certified Meta NLP (Neurosemantics Master Practitioner), Certified Professional Human Resources, dan saat ini menjabat sebagai Ketua Yayasan Dharma Bumiputera. Beberapa tahun terakhir, Pras juga mendapat julukan baru, yaitu mind provokator atau provokator pikiran, melalui berbagai workshop yang dia bawakan.
Sunday, October 24, 2010
Joseph Tommy Tilaar
Friday, October 22, 2010
Dedi Nugroho
Monday, October 4, 2010
Sammy Jonathan
Sunday, October 3, 2010
Jallaludin Ramay
Tuesday, September 28, 2010
Rolexon Napitupulu
Sunday, September 26, 2010
Azzam Mujahid Izzulhaq (Motivator, Leadership Coach)
Saya akhirnya memutuskan untuk mengambil resiko membaca buku MANTRA. Walaupun penulis, Mas Prasetya M Brata Full, menyatakan ketidaktanggungjawabannya atas segala resiko yg terjadi setelah membacanya.
Benar-benar buku yg TIDAK LAYAK ANDA BACA saja. Isi buku itu harus Anda ejawantahkan dalam kehidupan Anda. Resiko? Tanggung sendiri tentunya. Terimakasih, Mas Pras..!!
Friday, September 24, 2010
Thursday, September 23, 2010
Hasan Ageng Selo
<23 September 2010, Pk. 22.33>
Wednesday, September 15, 2010
Agustinus Thahir
... kesan saya untuk buku anda... unik, berkarakter, apa adanya, terkesan berani, inspiratif dan yang paling pasti adalah provokatif (dalam konteks positif tentunya).Dan buku anda termasuk buku 'box office' bagi saya ha ha..
saya punya habit beli buku... karena tertarik dengan cover terus isinya, lalu saya beli... tapi tetap saja keputusan final saya beli karena isinya.. yang saya rasa sesuai dengan yang ingin saya pelajari dan ketahui. walau demikian.. tetap saya puluhan buku itu masih dalam antrian untuk dibaca (walau hanya sebatas kata pengantar dan daftar isi) atau dibuka sampulnya ha ha... itulah kenapa saya katakan buku anda 'box office' ha ha...
terima kasih mas brata... saya belajar banyak hal dari karya tulis dan insight anda.
keep smiling, keep sharing and keep shining.
Cheers for a happy life !
Agustinus
Have a nice day and Fantastic life!
Bambang Taruno
Ass Pak Pras.. Provokasi 2 sudah habis saya lahap ! Satu komentar saja " RUARR BIASA HEBAT ".. Alias TOP MARKOTOP.. Sangat bagus ! Apalagi kata yang tepat ya ! Hanya orang yang bodoh yang tidak mau beli buku ini ! Kalau saya seorang pemimpin, maka saya akan mewajibkan karyawan saya utk membaca buku dahsyat ini ! Saya sudah merasakan manfaat kedahsyarannya! Langsung merubah mindset dan pandangan hidup yang lebih optimis.. Tksh Pak.. Monday, September 13, 2010
Badratun Nafisah (Ibad)
Wednesday, September 8, 2010
Rama Nugraha - Leadership Specialist
Ryan Widyanto
"Jangan percaya dengan apa yang saya katakan sebelum anda membuktikannya sendiri ... !"
Kata-kata tersebut akhir2 ini menjadi lebih akrab di telinga saya. Sebuah kalimat penutup dari sebuah acara bertajuk 'Provokasi' dari sebuah radio di jakarta yang di relay oleh radio di daerah saya. Awalnya bukan sebuah kesengajaan sebenarnya, tetapi lebih karena dorongan dari istri saya yang secara kebetulan harus bertugas merelay acara tersebut.
" Acaranya bagus Yah, pokoknya Ayah harus denger " itu yang dikatakannya kepadaku beberapa waktu yang lalu. Mungkin karena ia tahu betul kondisiku yang seringkali harus menjadi 'tempat sampah', serta keinginanku untuk lebih banyak 'berbagi'. Maka demi memenuhi amanah istri tercinta, sayapun menyempatkan untuk menyimak acara tersebut.
Berbeda, begitulah kesan pertama yang saya tangkap, kalo tidak mau disebut aneh.Seorang narasumber yang menyebut dirinya Provokator, selalu mengawali dan menutup acara dengan menyanyi diiringi gitar yang ia mainkan sendiri. Jangan berharap akan terdengar merdu, kadang suara bahkan sering gak sinkron dengan permainan gitarnya. Anehnya lagi, kadang dengan tertawa lepas ia mengakui bahwa ia baru saja mempelajari lagu dan kord gitarnya, karena ia ingin menyesuaikan dengan tema yang akan dibahas. Tapi yang justru sangat menarik bagi saya adalah kalimat penutup yang selalu ia sampaikan, "Jangan percaya dengan apa yang saya katakan sebelum anda membuktikannya sendiri ...!".
Narasumber yang aneh, begitu pikir saya.Sementara banyak orang dan pembicara yang ingin dan berusaha mati2an agar kata2nya dipercaya, ia malah minta agar jangan dipercaya. Aneh kan namanya? Saya akhirnya memutuskan untuk tidak mempercayai apa yang selalu dikatakannya pada setiap acara Provokasi, setidaknya begitu rencana dan keinginan saya. Namun menariknya, itu justru membuat saya penasaran untuk mencari tahu dan ingin membuktikan kebenaran dari kata2nya. Kebenaran dari setiap materi yang setiap kamis malam selalu beliau sampaikan. Dan ternyata, apa yang beliau katakan sebagian besar telah saya buktikan dalam pengalaman dan perjalanan hidup saya. Kalau sudah begini, tentunya tidak ada alasan lagi bagi saya untuk tidak mempercayainya bukan?!
Saya pada akhirnya justru menemukan hal menarik dari kalimat ini. Sebuah fenomena yang sengaja dimanfa'atkan sebagai sarana untuk provokasi. Pas banget dengan nama acara dan sebutan untuk narasumbernya, Provokasi dan Provokator. Bukan sebuah rahasia lagi, kita cenderung merasa penasaran pada sesuatu yang dilarang, sesuatu yang secara terbuka dilarang untuk dilakukan. Seringkali, kita justru secara diam2 berusaha melakukan apa yang sesungguhnya dilarang. Alam bawah sadar kebanyakan kita secara otomatis merasa penasaran terhadap sesuatu yang dilarang, kemudian mencari tahu, dan bahkan melakukan secara diam2. Terkadang, sekedar untuk memuaskan rasa ingin tahu dan penasaran terhadap sesuatu yang dilarang. Dan itu yang sepertinya dengan sengaja beliau lakukan, dan berhasil. Setidaknya pada saya dan menurut pandangan saya. Beliau sengaja memancing kita agar melakukan sesuatu (tindakan) yang pada akhirnya mengarah pada kebenaran kata2nya, yang pada akhirnya memaksa kita untuk percaya. That's it. Ternyata itu adalah kuncinya.
Makna lain yang saya tangkap adalah pesan beliau agar kita tidak dengan mudah percaya pada seseorang, apakah dia seorang Provokator atau yang lainnya. Kebanyakan kita memang cenderung langsung percaya pada seseorang yang kita anggap sebagai orang hebat, pembicara publik, terkenal, punya teman di fb banyak (bahkan sampai 2 account), statusnya selalu bagus dan lain sebagainya. Tidak percaya bukan berarti curiga. Kita hanya perlu berhati-hati dan melakukan cross check sebelum akhirnya kita percaya, dan bukan percaya begitu saja tanpa kita tahu pasti siapa dan apa yang kita percayai. Apalagi di jaman dimana jarak bukan lagi penghalang untuk silaturahmi, kita akan dengan mudah bisa berkenalan dan berinteraksi dengan siapa saja dan darimana saja serta dari latar belakang apa saja. Tapi apakah data yang ada itu benar semua adanya? ada baiknya anda lebih berhati-hati dalam menentukan apa yang anda percayai. Dan akan lebih baik anda percaya setelah anda membuktikannya sendiri.
Di akhir tulisan ini, saya ingin meminta anda agar tidak terlalu percaya dengan apa yang banyak orang katakan tentang saya. Apalagi untuk anda yang hanya mengenal saya lewat fb, web, ataupun tulisan2 saya. Anda sebaiknya mencari tahu dulu tentang saya dari orang2 yang secara langsung pernah mengenal saya, agar anda tidak merasa tertipu oleh saya. Tulisan ini saya tutup dengan meminjam kalimat dari pak Prasetya M Brata, dengan sedikit penyesuaian, Jangan percaya dengan apa yang saya tuliskan sebelum anda membuktikannya sendiri ...
Tetap Positif,
Terus Semangat !!!
NOTE : Ma'af pak Pras... ryan tetap tidak akan percaya terhadap kata2 pak Pras, kecuali yang sudah bisa ryan buktikan.
Sumber : http://www.facebook.com/profile.php?id=100000005982432#!/note.php?note_id=473402833318
Tuesday, February 9, 2010
Gabriella Amalia Iswahyudi

ketika "bagaimana" datang! thanks mas Prasetya M Brata, buku gila warna hitam yg udah nemenin beberapa hari dalam perjalanan di bus TransJakarta.
Friday, September 11, 2009
Desitri Widyaningrum
rated it:
Sunday, September 6, 2009
Franz Gilbert

BAPAK PRASSSS, SALAM PROVOKASI!!!!!! Uah, semangatttt saya...!!!
Saturday, April 25, 2009
Gita Amilia
Menanggapi “jangan cuma menuntut dosen enak”
11 Februari 2009 · 13 Comments
Isi dari blog tersebut http://provokasi-prass.blogspot.com/2009…) menyadarkan saya akan arti pendidikan. Selama ini saya merasa bahwa pendidikan itu seperti jual-beli. Terimakasih sebelumnya kepada pak prass dosen kami yang telah benar-benar menyadarkan saya bahwa anggapan saya itu salah besar. Saya setuju dengan sosok Prasetya M. Brata bahwasannya pendidikan itu bukanlah jual beli namun produksi dan transformasi. Dan sosok Prasetya M. Brata telah menyadarkan saya akan artinya menjadi “Mahasiswi yang enak”. Daripada pusing ngurusin dosen yang dianggap gak enak dan hasilnya pun mata kuliahnya jadi tidak kita sukai dan nilai kita jadi jeblok. Lebih baik berfikir “Bagaimana menjadi sosok mahasiswi yang enak” (kembali pada teori Be-Do-Get). Dan mulai detik ini juga (seperti slogan perusahaan yang saat inisaya naungi) saya berprinsip bahwa pendidikan BUKAN jual beli melainkan proses produksi dan transformasi.
Ika Pratiwi
Judul Buku : PROVOKASI
Menyiasati Pikiran, Meraih Keuntungan
Penulis : Prasetya M. Brata
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2008
Tebal Buku : xxix + 245 halaman
"Sombong adalah kotoran yang paling banyak dan paling mudah menempel. Kesombonganlah penyebab Iblis keluar dari Surga dan dilaknat Tuhan selamanya."
Petikan kalimat di atas merupakan salah satu kajian dari buku yang berjudul : "PROVOKASI Menyiasati Pikiran, Meraih Keuntungan" hasil karya Bp. Prasetya M. Brata (dengan nama panggilan : Prass). Alhamdulillah…aku mendapat kesempatan untuk membaca buku Provokasi, yang "dihadiahkan" oleh Bp. Prass sendiri melalui Ibunda saat peluncuran perdananya pada tanggal 26 April 2008 di Cisarua Bogor-Jawa Barat.
Sampul buku yang berwarna hitam membuat kesan menarik dan penasaran, karena sangat jarang sampul buku bertema Psikologi yang berwarna hitam pekat. Seperti yang diketahui pada umumnya, warna hitam mengandung arti : Misterius dan Berwibawa. Judul bukunya sih…seperti suatu bacaan yang "berat", padahal setelah dibaca lebih lanjut, seperti sedang membaca sebuah novel.
Bahasa yang disajikan sederhana, mudah dicerna dan tidak misterius, namun bermakna sangat dalam hingga ke lubuk hati. Terkadang ada sindiran halus yang membuat kita berpikir untuk tidak mengulangi kesalahan yang serupa (walaupun kelihatannya hal yang sepele).
Selain itu, Bp. Prass menganjurkan para pembacanya, sebelum mengadakan reuni teman-teman sekolah ada baiknya memvisualisasikan dalam pikiran untuk memiliki perasaan positif kepada semua teman, seperti bertemu teman-teman baru yang menyenangkan semua. Hmmm, tipsnya boleh juga nih…..untuk diterapkan langsung ke semua teman!
Buku Provokasi berusaha memprovokasi para pembacanya untuk menyadari bahwa setiap peristiwa dalam kehidupan sehari-hari akan mendapatkan hasilnya di kemudian hari. Jika kita mengalami hal yang kurang berkenan di hati, segeralah untuk beristighfar (memohon ampunan kepada Sang Pencipta) dan intropeksi diri, agar mendapat kehidupan yang lebih baik lagi. Dan selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT untuk mengatasi segala masalah yang dihadapi.
Saturday, April 18, 2009
Teresa Arif
hallo pak salam kenal.... sering dengar bpk di Smart FM ! sangat insiratif & kreatif. Jadi ketagihan dengar tiap hari
Have a nice day
Rdgs, Teresa
Mj Wawan

FB 16 Februari 2006
mas..makasih klo...gak rugi aku beli buku kamu.sedikit banyak ada efek positifnya.cerita2 di buku aku jadikan panutan,tp diambil yg sifatnya mudah diterapkan dlu.
btw,dah baca THE SECRET??aku dah beli dari dlu...baru baca sekitar 50an halaman.sampai sejauh itu masih blum paham apa itu RAHASIA??
bisa kasih clue??
Hayatun Nufus

FB 2 Maret 2009
pa,, ad cerita nich,,, cerita yang aku bawa dari sudut kota Cikampek,,
Aku kmrn dpt tawaran pindah kampus,, GRATIS biaya kul + masih dpt gaji yang lumayan. tapi harus kerja disana untuk bantu urus kampus itu... interviewnya langsung sama Ketua Yayasannya [Selevel Bapak yaks,,hehe].
Tapi dengan segala pertimbangan aku putuskan untuk ga mengambil kesempatan itu, salah satunya karna jauh dan kampusnya jujur ajah 'ga banget' [jgn bilang sapa2 yah pa] hehehee,,,, jadi aku tetep di BP sampe sekarang...
Pas pulang dr kampusnya setelah menolak tawaran tersebut, fikirku aku ga boleh nyesel, dan ternyata sedikit terjawab tyuh pa,,,
aku liat Ketua Yayasan disana lagi baca buku PROVOKASI'nya bapak,,,
sambil dia bilang bukunya bagus,,heheee,,,
Hhmmm,,, jadi makin yakin dech aku kalu aku fikir Lebih baik belajar sama yang nulis bukuna aja deh langsung,,, kesempatan yang lebih ok nampaknya,,, heheheeee,,,,,
Tina Sarmi

FB 23 Maret 2009

Salam kenal pa Pras. Biar lebih akrab saya panggil pa Pras, ga ap kan?
Saya tina, saya sudah baca buku pa Pras 'PROVOKASI', bagus... Akhir2 ini saya lagi senang baca buku tentang pengembangan diri dan kebetulan waktu itu teman saya merekomendasikan buku 'PROVOKASI' utk saya baca, walaupun awalnya saya ga suka baca buku stebal itu (bagi saya buku PROVOKASI itu tebal) tapi ternyata berawal dari buku itu saya jd suka baca buku yang stebal gaban, he....
Senang bisa berkenalan dgn pa Pras ^_^
Wednesday, April 15, 2009
www.andaluarbiasa.com
Sulut Pikiran dan Pecahkan Kotak Belenggu
Oleh: Rina Suci Handayani*
DATA BUKU
Judul: Provokasi
Oleh: Prasetya M. Brata
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2008
ISBN: 978-979-22-3720-7
Tebal: xxxvi + 246 hal
Ukuran: 13 x 20 cm
Tidak banyak orang yang mau merasa beruntung. Bagi segelintir orang, keberuntungan adalah barang langka ibarat jarum dalam tumpukan jerami. Namun bagi Prasetya M. Brata, penulis buku Provokasi, keberuntungan adalah masalah menyiasati pikiran. Tidak ada kata ‘nasib buruk’ dan ‘nasib baik’ dalam kamus hidupnya. Siapa pun bisa beruntung asalkan mau beruntung. Bersiaplah membuka cakrawala dan hati Anda menuju keberuntungan bersama Provokasi.
Judul yang menantang, itu yang tersirat dari buku Provokasi yang ditulis oleh Prasetya M. Brata. Dikemas dengan cover hitam elegan, buku yang sudah dicetak untuk kali kedua pada 10 Agustus 2008 ini mendapatkan sambutan positif dari pencinta buku jenis mind opener atau motivasi. Tidak sedikit yang kecele dengan judulnya yang terkesan politis. Tetapi, buku ini memang pantas dibaca oleh para politisi kita, supaya mereka lebih tersulut memberikan yang terbaik untuk negaranya.
Isinya ringan disajikan dalam bahasa yang popular, sederhana, menyulut, dan berani. Pengalaman keseharian dan aktivitas penulis tampak jelas menjadi inspirasi utama Provokasi. Bergelut dengan manusia dan sisi kemanusiaannya membuat Prasetya mampu menyajikan kasus-kasus humanis, yang kerap disepelekan dalam keseharian, menjadi sajian yang menyentuh, bersemangat, provokatif, dan menggelitik.
Gundah
Akal dan hati berada dalam satu badan namun belum tentu satu suara. Apakah rasa gundah itu lebih dulu muncul dari dalam hati lalu menuju akal untuk mencari solusinya? Atau sebaliknya? Akal menganalisis tetapi bila tidak sesuai dengan hati maka muncullah rasa gundah itu. Jawabnya sama saja ketika Anda disodori pertanyaan mana yang lebih dulu ada, ayam atau telur. Kegundahan pulalah yang menjadi titik balik Prasetya membuat sebuah blog di halaman elektronik. Inilah cikal bakal Prasetya pada akhirnya merilis sebuah buku yang diberi genre berbeda dari beberapa pembacanya.
Penerbitnya sendiri menggolongkan Provokasi termasuk kategori buku motivasi. Saat peluncuran buku ini tanggal 16 Mei 2008 yang lalu, terpampang dengan jelas di backdrop panggung diskusi bahwa buku ini dikategorikan sebagai buku mind opener. Seorang pembaca lain yang berprofesi sebagai jurnalis harian ekonomi di Jakarta lebih suka mengatakan buku ini adalah buku bergenre pengembangan diri atau self improvement.
Terlepas dari pilihan genre Provokasi, toh kentara betul gaya bahasanya memang menyulut alias provokatif. Dan, pada dasarnya jenis buku ini jamak beredar di pasar buku. Jadi, kalau dilihat dari genre buku Provokasi adalah buku yang tidak istimewa, kecuali Anda pro genre buku jenis ini, tentu bisa saja berkata lain.
Kondisi keseharian di Jakarta mendesak Prasetya untuk menuangkan kegundahannya akan perbedaan atas fakta kehidupan dan keyakinan, nilai, dan program yang ada di kepala penulis yang diakuinya berasal dari orang tua, guru, penataran P4, pramuka, dan lain-lain. Prasetya ramah dalam berkisah, alhasil puzzle kehidupan penulis tersaji dengan renyah dan mudah dicerna. Kisah-kisahnya yang secara jujur menguak pribadi penulis tidak sungkan dituliskannya. Ketika penulis menilai orang lain berdasarkan tafsirnya sendiri, yang mengarah menjadi prasangka dan mencoba mengatasinya agar prasangka tidak menjerumuskannya dalam pikiran negatif.
Suatu saat di sebuah perjalanan santai di Yogyakarta, penulis yang akrab disapa Prass ini terduduk di depan sepasang manusia yang berbeda ras. Seorang perempuan kulit putih dan lelaki lokal alias pribumi. Apa yang dilihatnya dari akivitas kedua insan itu diolahnya hanya berbekal pengalaman dan pengetahuan masa lalu Prass. Inilah yang dia katakan nyaris menjerumuskannya dalam prasangka yang memang jelas-jelas dilarang oleh Tuhan. Prass mengakui, bahwa ia hanya mengira-ngira tentang sepasang manusia itu. Padahal, perkiraannya itu belum tentu sesuai dengan kenyataannya. Kalau hal ini terjadi bisa timbul dampak yang menyebabkan ’korban’ Prass ini mungkin saja teraniaya karena hasil mengira-ngira itu.
Itulah yang Tuhan hindarkan dari sebagian prasangka, men-dzholimi orang lain yang bisa berakibat orang tersebut terfitnah, padahal belum tentu perkiraan Anda itu benar. Hati-hati, apa yang Anda lihat belum tentu sesuai dengan kenyataan. Penting untuk cek dan cek ulang sebelum menbuat pernyataan dalam benak Anda, begitu yang ingin Prass sampaikan lewat kisah “Prasangka”. Apa yang dituliskannya sangat mencerminkan karakter pria yang kesehariannya sibuk memberi training seputar pengembangan sumber daya manusia ini.
Berani Sekaligus Menyentuh
Siapa yang tidak bangun ketika disiram seember air sangat dingin? Kalau tidak bangun namanya terlalu. Ini penulis lakukan di kisah yang diberinya judul “Hormatilah Orang yang Tidak Berpuasa”. Provokasi ini mengundang pro dan kontra, yang pasti ibarat air dingin yang disiramkan kepada orang yang tertidur lelap. Responnya, ada yang bangun kemudian sadar, tetapi ada juga yang menganggapnya sebagai gangguan di saat kondisi nyaman, maka timbullah kemarahan.
Menyentuh karena manusia hanya memberikan apa yang dia miliki. Kehormatan adalah hal yang harus dimiliki diri sendiri sebelum menghormati orang lain. Prasetya memecah comfort zone pembaca dengan sudut pandang yang keluar dari kotak, pakem, atau norma yang selama ini telanjur mengakar.
Apakah Anda bisa menebak? Ya, tidak sedikit kontra untuk tulisannya yang satu ini. Tetapi Prass tidak kapok menulis hal yang dianggap tidak lazim ini. “Hormatilah Orang yang Tidak Berpuasa (2)”, dituliskannya untuk menjawab komentar yang masuk. Pertanggungjawaban Prass untuk tulisan yang satu ini memang membutuhkan keberanian, pasalnya ini adalah area publik yang cenderung dinilai sensitif. Apalagi di tengah komunitas muslim yang mendominasi, namun mengapa Prass justru terlihat membela yang minoritas ketimbang yang mayoritas? Prass punya argumen sendiri dalam bahasa yang lagi-lagi menyulut. Sungguh berani.
Pecinta Angklung
Lima tahun saya bersahabat dengan Angklung, alat musik tradisional khas Jawa Barat. Berkat jadi pemain angklung saya sudah mentas di Istana Negara, menghibur tamu negara saat Megawati menjabat sebagai presiden. Saya juga pecinta budaya Indonesia, termasuk reog yang pernah demo di depan kedutaan Malaysia sekitar bulan Februari 2008. Saat angkutan umum yang saya tumpangi melintas melewati pendemo tersebut, saya tersenyum bahagia mendukung para penari reog untuk bisa mendemo Malaysia sampai mereka kecut. Emosi negatif saya terpancing keluar berupa energi negatif berbentuk rasa kesal.
Persamaan angklung dan reog? Sama-sama diklaim oleh Malaysia. Sempat mendidih juga darah nasionalisme saya. Sampai akhirnya saya sampai di halaman 108 buku Provokasi dengan judul yang lagi-lagi berani, “Malingsia”. Hmm, perlahan-lahan darah saya mendingin kembali. Tidak saya sangka ternyata penulis mengapresiasi kasus ini, saya sebagai pecinta angklung jadi lebih terbuka. Ini memang masalah bersama, aset yang harus dipertahankan tapi apa masalahnya? Penulis mengembalikan kepada tafsir pembaca yang sedikit diwarnai teori isi teko ala Aa Gym. Saya kembali bertanya kepada diri sendiri, jadi apa masalahnya?
Miskin Selamanya
Ketika saya masih di bangku SD kelas enam di tahun 1989, saya masih ingat guru saya bilang negara kita adalah negara berkembang. Begitu pula ketika saya SMP, SMA, sampai perguruan tinggi. Indonesia adalah negara berkembang. Lha, kapan mekarnya, ya? Malah katanya sekarang jadi layu? Apa yang bikin layu? Apa karena kelamaan berkembangnya? Menurut saya, mungkin karena kita masih ‘miskin’.
Sangat menarik ketika saya membaca tulisan Prasetya, “Insya Allah Anda miskin terus.” Penulis yang selama 39 tahun hidupnya berada di dunia logika ini tidak segan-segan menuliskan sebuah pernyataan yang dihindari kebanyakan orang dan pemerintah: miskin. Mana ada negara yang mau jadi negara miskin.
Jika saya telaah lagi, pada dasarnya diri saya sendirilah yang membuat saya merasa miskin. Di tulisan ini Prasetya menyajikan sebuah menu andalan yang saya namakan ‘Yakin’. Ketika saya yakin bahwa saya miskin, ya itulah saya. Ketika saya yakin saya tidak layak, ya itulah saya. Dan, yakin bukan hanya milik hati seorang manusia saja, tetapi juga milik sebuah bangsa karena bangsa terdiri dari berjuta-juta hati manusia. Kalau melihat sekeliling dalam keseharian, saya jadi sedikit mengerti mengenai kenapa Indonesiaku ini sulit termotivasi dan masih ‘miskin’.
Mind Set is Matter
“Tidak ada gading yang tak retak”. Prass berpendapat bahwa keberuntungan yang selalu dinikmatinya bisa datang dalam bentuk apa pun. Kritik tajam maupun pujian bagi Provokasi adalah keberuntungan yang baginya diibaratkan mutiara. Mutiara memang keras namun indah dan diperebutkan. Intan juga keras namun mahal harganya. Berbagai tulisan di Provokasi pada intinya menyulut pembaca bahwa semua bisa mudah dan menjadi beruntung asalkan kita mau. Siasati pikiran karena itulah titik awal keberuntungan yang didambakan setiap insan.
Tidak perlu berpikir berdarah bila bisa berpikir mudah. “Bila berpikir bahwa menerbitkan sebuah buku itu harus berdarah-darah, maka itulah yang terjadi. Tetapi sebaliknya, jika berpikir bahwa menerbitkan buku itu mudah maka itulah yang terjadi,” katanya suatu saat dalam sebuah diskusi. Pernyataannya memang sudah dibuktikan, Prasetya sama sekali tidak memiliki rekam jejak sebagai penulis, tetapi impian berjuta penulis untuk menerbitkan sebuah buku telah lebih dulu dicapainya. Jadi, apa yang salah bila belajar dari apa yang sudah dijalankannya, meyiasati pikiran meraih keberuntungan?
Nasib Anda hari ini Andalah yang menentukan karena memang manusialah yang menentukan nasibnya. Bukan orang lain. Tuhan saja sudah mendelegasikan tugas menentukan nasib kepada manusia. Nasib tergantung dari mind set dan usaha. Yup, mind set is matter and mind opener is important. Provokasi cuma setitik dari lautan buku motivasi, mind opener, atau self improvement atau apa pun itu yang membanjiri dunia literatur.
Provokasi yang pasti tidak sepopular The Secret karya Rhonda Bryne, namun saya sangat terprovokasi mengubah mind set ketika tiba di kisah: “Pulang”. Saya jadi iri dengan yang sudah berpulang dan benar-benar menanti pulang. Keluar dari kotak berpikir bahwa “pulang” yang selama ini ditanamkan tabu untuk dibicarakan bahkan dipikirkan menjadi wajib hukumnya untuk saya bicarakan dan pikirkan setiap detik. Siapa yang tidak bahagia ketika pulang? Kalau tidak bahagia namanya terlalu.[rsc]
* Rina Suci Handayani adalah seorang wartawan, tinggal di Taman Wijaya Permai, Taktakan, Serang, Banten. Ia dapat dihubungi melalui nomor telepon 081321190873 atau pos-el: bright_solemio@yahoo.com.
Sunday, April 5, 2009
Ferdie Dm
Facebook message : 5 April 2009PAK PRAS HARUS BERTANGGUNG JAWAB !!!!
PAK PRAS HARUS BERTANGGUNG JAWAB, gara2 Bapak....
Saya jadi ter PROVOKASI
Halo Pak, jangan marah dulu.. saya sengaja bikin judulnya gitu, niruin gaya pak Pras, supaya Bapak jadi terprovokasi.
Saya Ferdie, mahasiswa ITB yang waktu itu pernah kirim message ke pak Pras dan udah baca buku nya pak Pras..
Tau ga pak kenapa saya beli buku Bapak?
Sebenarnya dari cover saya bingung bukunya item2 gitu, saya kirain tentang apa karena 'menyiasati pikiran, meraih keberuntungan', terus ada merah2nya, saya baru sadar itu fotonya pak Pras yang diliatin framenya saja.
Lalu saya baca halaman awal. tulisannya "Setelah membaca buku Stephen Covey, tentang paradigma bla bla bla"
koq sama banget seperti saya juga tertarik dengan paradigmanya si stephen covey itu, ...
langsung deh saya coba liat lagi, egh bukunya asik gaya bahasanya dan penyampaiannya...
akhirnya saya beli, dan udah saya baca sampe abis..
Jadi, klo dalam NLP istilahnya ada pacing dan leading, pak pras dari awal langsung PACING ke saya hahaha, terus mulai leading dengan pemikiran-pemikiran pak Pras yang sebenarnya berupa pengalaman sehari-hari dari blognya pak Pras..
Terus, saya ini kan trading dan invest di pasar modal juga, dari dulu nemuin suatu metode yang membuat saya bisa hanya meluangkan waktu 10 menit setiap minggunya tetep bisa profit. Dari dulu saya kepengen nulis buku, ingin mengutarakan pengalaman saya kepada semua orang. Tapi dari dulu ga jadi-jadi karena banyak halangan.
Entah kenapa , gara2 baca bukunya pak pras, saya jadi ter PROVOKASI untuk nulis buku.. Sekarang lagi tahap penyelesaian, saya masih kuliah lagi sibuk2nya semoga aja cepet selesai yah pak..
Nah, pak PRAS harus BERTANGGUNG JAWAB,, harus kasih testimoni.. karena gara2 pak Pras saya jadi nulis buku, apalagi pak pras dosen MM UI, cocok bgt sama temanya ttg ekonomi. haha , metode yang saya pake simpel bgt, ga perlu ada latar belakang ekonomi sama sekali kaya saya juga bisa pakai,.
Nanti klo bukunya sudah jadi saya tunjukkin ke bapak, kasih testimoninya ya pak. oya saya memasarkannya lewat internet marketing dulu, baru cetak buku fisiknya. Selain buku juga ada audio dan video pembelajarannya...
inget ya pak,, harus bertanggung jawab gara2 PROVOKASINYA.. hahahaha
bercanda Pak
Sukses Selalu
Suatu saat kita ketemu pak, saya penasaran sama pak Pras orangnya kaya apa, koq bisa nulis buku kata2nya kaya begitu..
NB: kalo di luar negeri ada Joe Vitale dengan "Hypnotic Writing"nya, di Indonesia ada Pak Pras dengan 'Provokasi"nya.
Sukses selalu PAK
Salam PROVOKASI








