
ketika "bagaimana" datang! thanks mas Prasetya M Brata, buku gila warna hitam yg udah nemenin beberapa hari dalam perjalanan di bus TransJakarta.
Orang picik sebaiknya tidak usah membaca buku ini agar bisa tetap bahagia dengan kepicikannya, karena akan susah hati dan resah pikiran kalau nekad membaca buku ini. Orang dogmatik dan fanatik sebaiknya juga tidak usah membaca buku ini, daripada jadi gusar terprovokasi. Setelah semua peringatan ini, penulis menyatakan tidak bertanggungjawab atas gangguan pikiran akibat membaca buku ini. Kalau anda nekad, itu menjadi tanggungjawab anda sendiri

ketika "bagaimana" datang! thanks mas Prasetya M Brata, buku gila warna hitam yg udah nemenin beberapa hari dalam perjalanan di bus TransJakarta.





Oleh: Rina Suci Handayani*
DATA BUKU
Judul: Provokasi
Oleh: Prasetya M. Brata
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2008
ISBN: 978-979-22-3720-7
Tebal: xxxvi + 246 hal
Ukuran: 13 x 20 cm
Tidak banyak orang yang mau merasa beruntung. Bagi segelintir orang, keberuntungan adalah barang langka ibarat jarum dalam tumpukan jerami. Namun bagi Prasetya M. Brata, penulis buku Provokasi, keberuntungan adalah masalah menyiasati pikiran. Tidak ada kata ‘nasib buruk’ dan ‘nasib baik’ dalam kamus hidupnya. Siapa pun bisa beruntung asalkan mau beruntung. Bersiaplah membuka cakrawala dan hati Anda menuju keberuntungan bersama Provokasi.
Judul yang menantang, itu yang tersirat dari buku Provokasi yang ditulis oleh Prasetya M. Brata. Dikemas dengan cover hitam elegan, buku yang sudah dicetak untuk kali kedua pada 10 Agustus 2008 ini mendapatkan sambutan positif dari pencinta buku jenis mind opener atau motivasi. Tidak sedikit yang kecele dengan judulnya yang terkesan politis. Tetapi, buku ini memang pantas dibaca oleh para politisi kita, supaya mereka lebih tersulut memberikan yang terbaik untuk negaranya.
Isinya ringan disajikan dalam bahasa yang popular, sederhana, menyulut, dan berani. Pengalaman keseharian dan aktivitas penulis tampak jelas menjadi inspirasi utama Provokasi. Bergelut dengan manusia dan sisi kemanusiaannya membuat Prasetya mampu menyajikan kasus-kasus humanis, yang kerap disepelekan dalam keseharian, menjadi sajian yang menyentuh, bersemangat, provokatif, dan menggelitik.
Gundah
Akal dan hati berada dalam satu badan namun belum tentu satu suara. Apakah rasa gundah itu lebih dulu muncul dari dalam hati lalu menuju akal untuk mencari solusinya? Atau sebaliknya? Akal menganalisis tetapi bila tidak sesuai dengan hati maka muncullah rasa gundah itu. Jawabnya sama saja ketika Anda disodori pertanyaan mana yang lebih dulu ada, ayam atau telur. Kegundahan pulalah yang menjadi titik balik Prasetya membuat sebuah blog di halaman elektronik. Inilah cikal bakal Prasetya pada akhirnya merilis sebuah buku yang diberi genre berbeda dari beberapa pembacanya.
Penerbitnya sendiri menggolongkan Provokasi termasuk kategori buku motivasi. Saat peluncuran buku ini tanggal 16 Mei 2008 yang lalu, terpampang dengan jelas di backdrop panggung diskusi bahwa buku ini dikategorikan sebagai buku mind opener. Seorang pembaca lain yang berprofesi sebagai jurnalis harian ekonomi di Jakarta lebih suka mengatakan buku ini adalah buku bergenre pengembangan diri atau self improvement.
Terlepas dari pilihan genre Provokasi, toh kentara betul gaya bahasanya memang menyulut alias provokatif. Dan, pada dasarnya jenis buku ini jamak beredar di pasar buku. Jadi, kalau dilihat dari genre buku Provokasi adalah buku yang tidak istimewa, kecuali Anda pro genre buku jenis ini, tentu bisa saja berkata lain.
Kondisi keseharian di Jakarta mendesak Prasetya untuk menuangkan kegundahannya akan perbedaan atas fakta kehidupan dan keyakinan, nilai, dan program yang ada di kepala penulis yang diakuinya berasal dari orang tua, guru, penataran P4, pramuka, dan lain-lain. Prasetya ramah dalam berkisah, alhasil puzzle kehidupan penulis tersaji dengan renyah dan mudah dicerna. Kisah-kisahnya yang secara jujur menguak pribadi penulis tidak sungkan dituliskannya. Ketika penulis menilai orang lain berdasarkan tafsirnya sendiri, yang mengarah menjadi prasangka dan mencoba mengatasinya agar prasangka tidak menjerumuskannya dalam pikiran negatif.
Suatu saat di sebuah perjalanan santai di Yogyakarta, penulis yang akrab disapa Prass ini terduduk di depan sepasang manusia yang berbeda ras. Seorang perempuan kulit putih dan lelaki lokal alias pribumi. Apa yang dilihatnya dari akivitas kedua insan itu diolahnya hanya berbekal pengalaman dan pengetahuan masa lalu Prass. Inilah yang dia katakan nyaris menjerumuskannya dalam prasangka yang memang jelas-jelas dilarang oleh Tuhan. Prass mengakui, bahwa ia hanya mengira-ngira tentang sepasang manusia itu. Padahal, perkiraannya itu belum tentu sesuai dengan kenyataannya. Kalau hal ini terjadi bisa timbul dampak yang menyebabkan ’korban’ Prass ini mungkin saja teraniaya karena hasil mengira-ngira itu.
Itulah yang Tuhan hindarkan dari sebagian prasangka, men-dzholimi orang lain yang bisa berakibat orang tersebut terfitnah, padahal belum tentu perkiraan Anda itu benar. Hati-hati, apa yang Anda lihat belum tentu sesuai dengan kenyataan. Penting untuk cek dan cek ulang sebelum menbuat pernyataan dalam benak Anda, begitu yang ingin Prass sampaikan lewat kisah “Prasangka”. Apa yang dituliskannya sangat mencerminkan karakter pria yang kesehariannya sibuk memberi training seputar pengembangan sumber daya manusia ini.
Berani Sekaligus Menyentuh
Siapa yang tidak bangun ketika disiram seember air sangat dingin? Kalau tidak bangun namanya terlalu. Ini penulis lakukan di kisah yang diberinya judul “Hormatilah Orang yang Tidak Berpuasa”. Provokasi ini mengundang pro dan kontra, yang pasti ibarat air dingin yang disiramkan kepada orang yang tertidur lelap. Responnya, ada yang bangun kemudian sadar, tetapi ada juga yang menganggapnya sebagai gangguan di saat kondisi nyaman, maka timbullah kemarahan.
Menyentuh karena manusia hanya memberikan apa yang dia miliki. Kehormatan adalah hal yang harus dimiliki diri sendiri sebelum menghormati orang lain. Prasetya memecah comfort zone pembaca dengan sudut pandang yang keluar dari kotak, pakem, atau norma yang selama ini telanjur mengakar.
Apakah Anda bisa menebak? Ya, tidak sedikit kontra untuk tulisannya yang satu ini. Tetapi Prass tidak kapok menulis hal yang dianggap tidak lazim ini. “Hormatilah Orang yang Tidak Berpuasa (2)”, dituliskannya untuk menjawab komentar yang masuk. Pertanggungjawaban Prass untuk tulisan yang satu ini memang membutuhkan keberanian, pasalnya ini adalah area publik yang cenderung dinilai sensitif. Apalagi di tengah komunitas muslim yang mendominasi, namun mengapa Prass justru terlihat membela yang minoritas ketimbang yang mayoritas? Prass punya argumen sendiri dalam bahasa yang lagi-lagi menyulut. Sungguh berani.
Pecinta Angklung
Lima tahun saya bersahabat dengan Angklung, alat musik tradisional khas Jawa Barat. Berkat jadi pemain angklung saya sudah mentas di Istana Negara, menghibur tamu negara saat Megawati menjabat sebagai presiden. Saya juga pecinta budaya Indonesia, termasuk reog yang pernah demo di depan kedutaan Malaysia sekitar bulan Februari 2008. Saat angkutan umum yang saya tumpangi melintas melewati pendemo tersebut, saya tersenyum bahagia mendukung para penari reog untuk bisa mendemo Malaysia sampai mereka kecut. Emosi negatif saya terpancing keluar berupa energi negatif berbentuk rasa kesal.
Persamaan angklung dan reog? Sama-sama diklaim oleh Malaysia. Sempat mendidih juga darah nasionalisme saya. Sampai akhirnya saya sampai di halaman 108 buku Provokasi dengan judul yang lagi-lagi berani, “Malingsia”. Hmm, perlahan-lahan darah saya mendingin kembali. Tidak saya sangka ternyata penulis mengapresiasi kasus ini, saya sebagai pecinta angklung jadi lebih terbuka. Ini memang masalah bersama, aset yang harus dipertahankan tapi apa masalahnya? Penulis mengembalikan kepada tafsir pembaca yang sedikit diwarnai teori isi teko ala Aa Gym. Saya kembali bertanya kepada diri sendiri, jadi apa masalahnya?
Miskin Selamanya
Ketika saya masih di bangku SD kelas enam di tahun 1989, saya masih ingat guru saya bilang negara kita adalah negara berkembang. Begitu pula ketika saya SMP, SMA, sampai perguruan tinggi. Indonesia adalah negara berkembang. Lha, kapan mekarnya, ya? Malah katanya sekarang jadi layu? Apa yang bikin layu? Apa karena kelamaan berkembangnya? Menurut saya, mungkin karena kita masih ‘miskin’.
Sangat menarik ketika saya membaca tulisan Prasetya, “Insya Allah Anda miskin terus.” Penulis yang selama 39 tahun hidupnya berada di dunia logika ini tidak segan-segan menuliskan sebuah pernyataan yang dihindari kebanyakan orang dan pemerintah: miskin. Mana ada negara yang mau jadi negara miskin.
Jika saya telaah lagi, pada dasarnya diri saya sendirilah yang membuat saya merasa miskin. Di tulisan ini Prasetya menyajikan sebuah menu andalan yang saya namakan ‘Yakin’. Ketika saya yakin bahwa saya miskin, ya itulah saya. Ketika saya yakin saya tidak layak, ya itulah saya. Dan, yakin bukan hanya milik hati seorang manusia saja, tetapi juga milik sebuah bangsa karena bangsa terdiri dari berjuta-juta hati manusia. Kalau melihat sekeliling dalam keseharian, saya jadi sedikit mengerti mengenai kenapa Indonesiaku ini sulit termotivasi dan masih ‘miskin’.
Mind Set is Matter
“Tidak ada gading yang tak retak”. Prass berpendapat bahwa keberuntungan yang selalu dinikmatinya bisa datang dalam bentuk apa pun. Kritik tajam maupun pujian bagi Provokasi adalah keberuntungan yang baginya diibaratkan mutiara. Mutiara memang keras namun indah dan diperebutkan. Intan juga keras namun mahal harganya. Berbagai tulisan di Provokasi pada intinya menyulut pembaca bahwa semua bisa mudah dan menjadi beruntung asalkan kita mau. Siasati pikiran karena itulah titik awal keberuntungan yang didambakan setiap insan.
Tidak perlu berpikir berdarah bila bisa berpikir mudah. “Bila berpikir bahwa menerbitkan sebuah buku itu harus berdarah-darah, maka itulah yang terjadi. Tetapi sebaliknya, jika berpikir bahwa menerbitkan buku itu mudah maka itulah yang terjadi,” katanya suatu saat dalam sebuah diskusi. Pernyataannya memang sudah dibuktikan, Prasetya sama sekali tidak memiliki rekam jejak sebagai penulis, tetapi impian berjuta penulis untuk menerbitkan sebuah buku telah lebih dulu dicapainya. Jadi, apa yang salah bila belajar dari apa yang sudah dijalankannya, meyiasati pikiran meraih keberuntungan?
Nasib Anda hari ini Andalah yang menentukan karena memang manusialah yang menentukan nasibnya. Bukan orang lain. Tuhan saja sudah mendelegasikan tugas menentukan nasib kepada manusia. Nasib tergantung dari mind set dan usaha. Yup, mind set is matter and mind opener is important. Provokasi cuma setitik dari lautan buku motivasi, mind opener, atau self improvement atau apa pun itu yang membanjiri dunia literatur.
Provokasi yang pasti tidak sepopular The Secret karya Rhonda Bryne, namun saya sangat terprovokasi mengubah mind set ketika tiba di kisah: “Pulang”. Saya jadi iri dengan yang sudah berpulang dan benar-benar menanti pulang. Keluar dari kotak berpikir bahwa “pulang” yang selama ini ditanamkan tabu untuk dibicarakan bahkan dipikirkan menjadi wajib hukumnya untuk saya bicarakan dan pikirkan setiap detik. Siapa yang tidak bahagia ketika pulang? Kalau tidak bahagia namanya terlalu.[rsc]
* Rina Suci Handayani adalah seorang wartawan, tinggal di Taman Wijaya Permai, Taktakan, Serang, Banten. Ia dapat dihubungi melalui nomor telepon 081321190873 atau pos-el: bright_solemio@yahoo.com.
Facebook message : 5 April 2009Editor | Buku Pilihan | March 9th, 2009 | No Comments »
Oleh: Rina Suci Handayani*
DATA BUKU
Judul: Provokasi
Oleh: Prasetya M. Brata
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, 2008
ISBN: 978-979-22-3720-7
Tebal: xxxvi + 246 hal
Ukuran: 13 x 20 cm
Tidak banyak orang yang mau merasa beruntung. Bagi segelintir orang, keberuntungan adalah barang langka ibarat jarum dalam tumpukan jerami. Namun bagi Prasetya M. Brata, penulis buku Provokasi, keberuntungan adalah masalah menyiasati pikiran. Tidak ada kata ‘nasib buruk’ dan ‘nasib baik’ dalam kamus hidupnya. Siapa pun bisa beruntung asalkan mau beruntung. Bersiaplah membuka cakrawala dan hati Anda menuju keberuntungan bersama Provokasi.
Judul yang menantang, itu yang tersirat dari buku Provokasi yang ditulis oleh Prasetya M. Brata. Dikemas dengan cover hitam elegan, buku yang sudah dicetak untuk kali kedua pada 10 Agustus 2008 ini mendapatkan sambutan positif dari pencinta buku jenis mind opener atau motivasi. Tidak sedikit yang kecele dengan judulnya yang terkesan politis. Tetapi, buku ini memang pantas dibaca oleh para politisi kita, supaya mereka lebih tersulut memberikan yang terbaik untuk negaranya.
Isinya ringan disajikan dalam bahasa yang popular, sederhana, menyulut, dan berani. Pengalaman keseharian dan aktivitas penulis tampak jelas menjadi inspirasi utama Provokasi. Bergelut dengan manusia dan sisi kemanusiaannya membuat Prasetya mampu menyajikan kasus-kasus humanis, yang kerap disepelekan dalam keseharian, menjadi sajian yang menyentuh, bersemangat, provokatif, dan menggelitik.
Gundah
Akal dan hati berada dalam satu badan namun belum tentu satu suara. Apakah rasa gundah itu lebih dulu muncul dari dalam hati lalu menuju akal untuk mencari solusinya? Atau sebaliknya? Akal menganalisis tetapi bila tidak sesuai dengan hati maka muncullah rasa gundah itu. Jawabnya sama saja ketika Anda disodori pertanyaan mana yang lebih dulu ada, ayam atau telur. Kegundahan pulalah yang menjadi titik balik Prasetya membuat sebuah blog di halaman elektronik. Inilah cikal bakal Prasetya pada akhirnya merilis sebuah buku yang diberi genre berbeda dari beberapa pembacanya.
Penerbitnya sendiri menggolongkan Provokasi termasuk kategori buku motivasi. Saat peluncuran buku ini tanggal 16 Mei 2008 yang lalu, terpampang dengan jelas di backdrop panggung diskusi bahwa buku ini dikategorikan sebagai buku mind opener. Seorang pembaca lain yang berprofesi sebagai jurnalis harian ekonomi di Jakarta lebih suka mengatakan buku ini adalah buku bergenre pengembangan diri atau self improvement.
Terlepas dari pilihan genre Provokasi, toh kentara betul gaya bahasanya memang menyulut alias provokatif. Dan, pada dasarnya jenis buku ini jamak beredar di pasar buku. Jadi, kalau dilihat dari genre buku Provokasi adalah buku yang tidak istimewa, kecuali Anda pro genre buku jenis ini, tentu bisa saja berkata lain.
Kondisi keseharian di Jakarta mendesak Prasetya untuk menuangkan kegundahannya akan perbedaan atas fakta kehidupan dan keyakinan, nilai, dan program yang ada di kepala penulis yang diakuinya berasal dari orang tua, guru, penataran P4, pramuka, dan lain-lain. Prasetya ramah dalam berkisah, alhasil puzzle kehidupan penulis tersaji dengan renyah dan mudah dicerna. Kisah-kisahnya yang secara jujur menguak pribadi penulis tidak sungkan dituliskannya. Ketika penulis menilai orang lain berdasarkan tafsirnya sendiri, yang mengarah menjadi prasangka dan mencoba mengatasinya agar prasangka tidak menjerumuskannya dalam pikiran negatif.
Suatu saat di sebuah perjalanan santai di Yogyakarta, penulis yang akrab disapa Prass ini terduduk di depan sepasang manusia yang berbeda ras. Seorang perempuan kulit putih dan lelaki lokal alias pribumi. Apa yang dilihatnya dari akivitas kedua insan itu diolahnya hanya berbekal pengalaman dan pengetahuan masa lalu Prass. Inilah yang dia katakan nyaris menjerumuskannya dalam prasangka yang memang jelas-jelas dilarang oleh Tuhan. Prass mengakui, bahwa ia hanya mengira-ngira tentang sepasang manusia itu. Padahal, perkiraannya itu belum tentu sesuai dengan kenyataannya. Kalau hal ini terjadi bisa timbul dampak yang menyebabkan ’korban’ Prass ini mungkin saja teraniaya karena hasil mengira-ngira itu.
Itulah yang Tuhan hindarkan dari sebagian prasangka, men-dzholimi orang lain yang bisa berakibat orang tersebut terfitnah, padahal belum tentu perkiraan Anda itu benar. Hati-hati, apa yang Anda lihat belum tentu sesuai dengan kenyataan. Penting untuk cek dan cek ulang sebelum menbuat pernyataan dalam benak Anda, begitu yang ingin Prass sampaikan lewat kisah “Prasangka”. Apa yang dituliskannya sangat mencerminkan karakter pria yang kesehariannya sibuk memberi training seputar pengembangan sumber daya manusia ini.
Berani Sekaligus Menyentuh
Siapa yang tidak bangun ketika disiram seember air sangat dingin? Kalau tidak bangun namanya terlalu. Ini penulis lakukan di kisah yang diberinya judul “Hormatilah Orang yang Tidak Berpuasa”. Provokasi ini mengundang pro dan kontra, yang pasti ibarat air dingin yang disiramkan kepada orang yang tertidur lelap. Responnya, ada yang bangun kemudian sadar, tetapi ada juga yang menganggapnya sebagai gangguan di saat kondisi nyaman, maka timbullah kemarahan.
Menyentuh karena manusia hanya memberikan apa yang dia miliki. Kehormatan adalah hal yang harus dimiliki diri sendiri sebelum menghormati orang lain. Prasetya memecah comfort zone pembaca dengan sudut pandang yang keluar dari kotak, pakem, atau norma yang selama ini telanjur mengakar.
Apakah Anda bisa menebak? Ya, tidak sedikit kontra untuk tulisannya yang satu ini. Tetapi Prass tidak kapok menulis hal yang dianggap tidak lazim ini. “Hormatilah Orang yang Tidak Berpuasa (2)”, dituliskannya untuk menjawab komentar yang masuk. Pertanggungjawaban Prass untuk tulisan yang satu ini memang membutuhkan keberanian, pasalnya ini adalah area publik yang cenderung dinilai sensitif. Apalagi di tengah komunitas muslim yang mendominasi, namun mengapa Prass justru terlihat membela yang minoritas ketimbang yang mayoritas? Prass punya argumen sendiri dalam bahasa yang lagi-lagi menyulut. Sungguh berani.
Pecinta Angklung
Lima tahun saya bersahabat dengan Angklung, alat musik tradisional khas Jawa Barat. Berkat jadi pemain angklung saya sudah mentas di Istana Negara, menghibur tamu negara saat Megawati menjabat sebagai presiden. Saya juga pecinta budaya Indonesia, termasuk reog yang pernah demo di depan kedutaan Malaysia sekitar bulan Februari 2008. Saat angkutan umum yang saya tumpangi melintas melewati pendemo tersebut, saya tersenyum bahagia mendukung para penari reog untuk bisa mendemo Malaysia sampai mereka kecut. Emosi negatif saya terpancing keluar berupa energi negatif berbentuk rasa kesal.
Persamaan angklung dan reog? Sama-sama diklaim oleh Malaysia. Sempat mendidih juga darah nasionalisme saya. Sampai akhirnya saya sampai di halaman 108 buku Provokasi dengan judul yang lagi-lagi berani, “Malingsia”. Hmm, perlahan-lahan darah saya mendingin kembali. Tidak saya sangka ternyata penulis mengapresiasi kasus ini, saya sebagai pecinta angklung jadi lebih terbuka. Ini memang masalah bersama, aset yang harus dipertahankan tapi apa masalahnya? Penulis mengembalikan kepada tafsir pembaca yang sedikit diwarnai teori isi teko ala Aa Gym. Saya kembali bertanya kepada diri sendiri, jadi apa masalahnya?
Miskin Selamanya
Ketika saya masih di bangku SD kelas enam di tahun 1989, saya masih ingat guru saya bilang negara kita adalah negara berkembang. Begitu pula ketika saya SMP, SMA, sampai perguruan tinggi. Indonesia adalah negara berkembang. Lha, kapan mekarnya, ya? Malah katanya sekarang jadi layu? Apa yang bikin layu? Apa karena kelamaan berkembangnya? Menurut saya, mungkin karena kita masih ‘miskin’.
Sangat menarik ketika saya membaca tulisan Prasetya, “Insya Allah Anda miskin terus.” Penulis yang selama 39 tahun hidupnya berada di dunia logika ini tidak segan-segan menuliskan sebuah pernyataan yang dihindari kebanyakan orang dan pemerintah: miskin. Mana ada negara yang mau jadi negara miskin.
Jika saya telaah lagi, pada dasarnya diri saya sendirilah yang membuat saya merasa miskin. Di tulisan ini Prasetya menyajikan sebuah menu andalan yang saya namakan ‘Yakin’. Ketika saya yakin bahwa saya miskin, ya itulah saya. Ketika saya yakin saya tidak layak, ya itulah saya. Dan, yakin bukan hanya milik hati seorang manusia saja, tetapi juga milik sebuah bangsa karena bangsa terdiri dari berjuta-juta hati manusia. Kalau melihat sekeliling dalam keseharian, saya jadi sedikit mengerti mengenai kenapa Indonesiaku ini sulit termotivasi dan masih ‘miskin’.
Mind Set is Matter
“Tidak ada gading yang tak retak”. Prass berpendapat bahwa keberuntungan yang selalu dinikmatinya bisa datang dalam bentuk apa pun. Kritik tajam maupun pujian bagi Provokasi adalah keberuntungan yang baginya diibaratkan mutiara. Mutiara memang keras namun indah dan diperebutkan. Intan juga keras namun mahal harganya. Berbagai tulisan di Provokasi pada intinya menyulut pembaca bahwa semua bisa mudah dan menjadi beruntung asalkan kita mau. Siasati pikiran karena itulah titik awal keberuntungan yang didambakan setiap insan.
Tidak perlu berpikir berdarah bila bisa berpikir mudah. “Bila berpikir bahwa menerbitkan sebuah buku itu harus berdarah-darah, maka itulah yang terjadi. Tetapi sebaliknya, jika berpikir bahwa menerbitkan buku itu mudah maka itulah yang terjadi,” katanya suatu saat dalam sebuah diskusi. Pernyataannya memang sudah dibuktikan, Prasetya sama sekali tidak memiliki rekam jejak sebagai penulis, tetapi impian berjuta penulis untuk menerbitkan sebuah buku telah lebih dulu dicapainya. Jadi, apa yang salah bila belajar dari apa yang sudah dijalankannya, meyiasati pikiran meraih keberuntungan?
Nasib Anda hari ini Andalah yang menentukan karena memang manusialah yang menentukan nasibnya. Bukan orang lain. Tuhan saja sudah mendelegasikan tugas menentukan nasib kepada manusia. Nasib tergantung dari mind set dan usaha. Yup, mind set is matter and mind opener is important. Provokasi cuma setitik dari lautan buku motivasi, mind opener, atau self improvement atau apa pun itu yang membanjiri dunia literatur.
Provokasi yang pasti tidak sepopular The Secret karya Rhonda Bryne, namun saya sangat terprovokasi mengubah mind set ketika tiba di kisah: “Pulang”. Saya jadi iri dengan yang sudah berpulang dan benar-benar menanti pulang. Keluar dari kotak berpikir bahwa “pulang” yang selama ini ditanamkan tabu untuk dibicarakan bahkan dipikirkan menjadi wajib hukumnya untuk saya bicarakan dan pikirkan setiap detik. Siapa yang tidak bahagia ketika pulang? Kalau tidak bahagia namanya terlalu.[rsc]
* Rina Suci Handayani adalah seorang wartawan, tinggal di Taman Wijaya Permai, Taktakan, Serang, Banten. Ia dapat dihubungi melalui nomor telepon 081321190873 atau pos-el: bright_solemio@yahoo.com.
Assalamualaikum Mas Pras….
Terima kasih kepada Kacab saya yang telah mendatangkan seorang Prasetya M. Brata untuk memberikan pencerahan pikiran dan hati di kantor kami yang sangat sederhana di Kantor AJB Bumiputera Pamulang.
Dan dihari ulang Tahun saya kemarin, saya mendapatkan hadiah yang sudah 10 hari saya cari ditoko –toko buku , yang semuanya bilang HABISSSS…… dan saya hanya bisa meninggalkan No. Telp. Saya untuk dihubungi pihak toko jika buku yang saya cari sudah ada.
Dan Sekarang saya sudah mendapatkan Benda tersebut, ……. PROVOKASI by PRASETYA M. BRATA.
Gak muluk-muluk, menjadi lebih hidup dan lbh sederhana menyikapi semua masalah yang sedang dan akan sy hadapi.
Sukses Buat Mas Pras ….
Pamulang, 28 Januari 2009
Indira
Judul Buku : PROVOKASI
Menyiasati Pikiran, Meraih Keuntungan
Penulis : Prasetya M. Brata
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2008
Tebal Buku : xxix + 245 halaman
"Sombong adalah kotoran yang paling banyak dan paling mudah menempel. Kesombonganlah penyebab Iblis keluar dari Surga dan dilaknat Tuhan selamanya."
Petikan kalimat di atas merupakan salah satu kajian dari buku yang berjudul : "PROVOKASI Menyiasati Pikiran, Meraih Keuntungan" hasil karya Bp. Prasetya M. Brata (dengan nama panggilan : Prass). Alhamdulillah…aku mendapat kesempatan untuk membaca buku Provokasi, yang "dihadiahkan" oleh Bp. Prass sendiri melalui Ibunda saat peluncuran perdananya pada tanggal 26 April 2008 di Cisarua Bogor-Jawa Barat.
Sampul buku yang berwarna hitam membuat kesan menarik dan penasaran, karena sangat jarang sampul buku bertema Psikologi yang berwarna hitam pekat. Seperti yang diketahui pada umumnya, warna hitam mengandung arti : Misterius dan Berwibawa. Judul bukunya sih…seperti suatu bacaan yang "berat", padahal setelah dibaca lebih lanjut, seperti sedang membaca sebuah novel.
Bahasa yang disajikan sederhana, mudah dicerna dan tidak misterius, namun bermakna sangat dalam hingga ke lubuk hati. Terkadang ada sindiran halus yang membuat kita berpikir untuk tidak mengulangi kesalahan yang serupa (walaupun kelihatannya hal yang sepele).
Selain itu, Bp. Prass menganjurkan para pembacanya, sebelum mengadakan reuni teman-teman sekolah ada baiknya memvisualisasikan dalam pikiran untuk memiliki perasaan positif kepada semua teman, seperti bertemu teman-teman baru yang menyenangkan semua. Hmmm, tipsnya boleh juga nih…..untuk diterapkan langsung ke semua teman!
Buku Provokasi berusaha memprovokasi para pembacanya untuk menyadari bahwa setiap peristiwa dalam kehidupan sehari-hari akan mendapatkan hasilnya di kemudian hari. Jika kita mengalami hal yang kurang berkenan di hati, segeralah untuk beristighfar (memohon ampunan kepada Sang Pencipta) dan intropeksi diri, agar mendapat kehidupan yang lebih baik lagi. Dan selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT untuk mengatasi segala masalah yang dihadapi.

Para blogwalkers yang terhormat, saya minta tolong. Tolong jangan dibayangkan. Sekali lagi, jangan dibayangkan. Mengerti kan? Ya, jangan bayangkan pernyataan saya ini:
Ada seekor gajah perempuan. Di telinganya dipasang pita kupu-kupu pink. Gajah ini sedang berpose dengan satu kaki depan terangkat. Belalainya diangkat ke atas. Lidahnya dijulurkan ke bawah.
Baiklah. Terima kasih anda ga membayangkan gajah tadi. Eh benarkah anda ga membayangkan gajah itu? Ga percaya saya….
***
Prasetya M Brata dalam kapsul provokasinya di SMART FM bercerita tentang pengaruh pernyataan negatif. Manusia itu ga bisa dididik dengan pelajaran negatif: jangan, tidak atau bukan.
TV dengan sinetronnya adalah contoh yg sangat jelas mewakili pelajaran negatif ini: adegan kekerasan, hamil di luar nikah, membentak orang tua, anak SD saling benci. Ketika orang2 protes atas tema sinetron yang ga mendidik, produsernya bilang kalau dia juga sesungguhnya sedang mendidik masyarakat dengan sinetronnya. Mendidik untuk TIDAK melakukan adegan2 itu. JANGAN melakukan adegan kekerasan, JANGAN hamil di luar nikah, JANGAN bentak orang tua, JANGAN saling benci. Nyatanya yang DIJANGAN-JANGANIN malah marak terjadi.
Saya salut sama Deddy Mizwar. Dia bilang kalau dia ga mau mempromosikan kekerasan dalam pelm or sinetron yg digarapnya. Memang bikin cerita itu gampang. Bikin aja tokoh antagonis yang super jahat melawan tokoh yang super baik. Di akhir cerita, yg baik yg menang. Nah, hebatnya Deddy Mizwar itu bisa membuat cerita tanpa tokoh antagonis tapi tetep seru… Begitulah seharusnya kisah sinetron/pelm.
OK balik lagi ke topik kita. Orang-orang yg demo PROTES sinetron ga mendidik juga seharusnya melakukan demo PRO sinetron yang baik.
Jadi, ganti kalimat negatif menjadi positif. Ganti kalimat JANGAN BERISIK menjadi diam. JANGAN NAIK menjadi turun. JANGAN BERKELAHI menjadi berdamailah. JANGAN KORUPSI menjadi korupsilah… Loh?


Hari ini Riku pertama kali ke TK setelah liburan panjang di Jakarta. Seharusnya sejak hari Kamis minggu lalu. Tapi aku lupa! Aku pikir baru mulai hari Senin tgl 25. Setelah hari seninnya, baru aku liat kertas pengumumannya ternyata sudah sejak hari Kamis lalu…. Ada acara memecahh buah semangka, finger painting, berenang dan menonton film. Hanya 2 jam dari jam 9:30 sampai 11:30. Memang sih tidak wajib hadir. Tapi aku sudah mendaftar akan hadir jauh-jauh hari.
Hari ini temanya: Body painting. Jadi kemarin sudah ada telepon beranting yang mengingatkan untuk membawa CD dan handuk. Pagi jam 8 Riku sudah siap. Semangat sekali dia mau pergi karena dia tahu hari ini juga Tante Marikonya akan datang (duh udah kayak pacaran aja deh…. kemarin sudah bermain seharian —sampai aku marahin karena bongkar akuariumnya— jam 8 malam masih telepon juga ke Tantenya… dan…. main jankenpong (suit) di telepon !!! duh duh duh). Jam 9:10 Mariko san datang, dan Mereka langsung berangkat ke TK. Hari ini aku tidak usah mengantar Riku, digantikan Mariko san. Hmmm ada rasa kehilangan juga, tapi sekaligus kesempatan untuk membereskan rumah, terutama pakaian yang belum kering karena hari ini cerah sekali. Aku sampai nyuci 3 kali!.
Begitu Mariko san kembali ke rumah, aku siapkan makanan untuk Kai, dan aku naik sepeda ke arah stasiun untuk mengurus Bank dan belanja. Ternyata setelah dari Jakarta, baru hari ini aku keluar rumah sampai sini. Hmmm tidak ada perubahan yang berarti tapi…. ada satu toko sayuran yang murah, menempelkan kertas di depan tokonya, “Libur untuk waktu yang tidak ditentukan”. Ada apakah gerangan? Saya selalu curiga dengan perkataan itu, karena seakan-akan toko itu akan tutup.
Setelah dari Bank, aku sempat mampir di tempat penitipan anak “Baby Station”, untuk menanyakan tentang peluang untuk menitipkan Kai di situ. Ternyata di situ juga penuh. HMmm jelas lah, bulan september begini biasanya pasti sudah penuh. Jalan satu-satunya…. minta kesediaan Tante Mariko jadi baby sitter hehehe mumpung Kai mau sama Mariko san … Kai bilang ” mbakkkk… mau”. (ngga juga deh… soalnya tante Mariko sudah sibuk dengan pacara barunya…aku bisa titip Kai sebagai visitor di HImawari, tempat Riku dulu). Setelah belanja sayur dan buah-buahan aku cepat-cepat pulang karena sudah jam 11… Riku harus dijemput jam 11:30.
Sebetulnya aku ada janji dengan dokternya Kai untuk check up dan vaksin MR jam 2:30. Tapi karena Kai persis tidur dan sebelumnya ada kecelakaan kecil (lantai basah kuyup akibat kai main air yang dibawa Riku) jadi aku tidak siap pergi. Kepala juga rasa mau meledak karena aku masih harus siapkan perlengkapan yang harus dibawa Riku untuk pergi menginap besok. Semua perlengkapan harus diberi nama dan dimasukkan dalam kantong plastik terpisah-pisah. Pokoknya banyak banget aturannya. Sibuk deh. Aku batalkan dokter hari ini dan ganti jadwal ke minggu depan.
Nah… yang menjadi masalah adalah… tiba-tiba Riku menangis…
“Mama besok Riku tidur sendiri? ngga sama mama?”
“Iya sama teman-teman loh, dan sama Maiko sensei. Riku kan sayang pada Maiko sensei…. besok bisa sama-sama main dan sama-sama tidur loh”.
“Riku mau sama mama terus. Sama papa sama Kai. Aku ngga mau pergi”.
“Hmm Riku besok itu menyenangkan loh. pasti Riku lupa sama mama dan papa saking senangnya bermain dnegan teman-teman. Ada campfire nya juga loh. ”
Dia menunduk dan di pipinya bergulir air mata…..
Aku peluk dia erat-erat dan aku bilang,
“Biarpun mama tidak ada di depan Riku, mama selalu ada di dalam hati Riku. selalu. ”
dia masih diam
“Gini Riku bawa deh saputangan mama pakai minyak wangi mama… mau?”
“Aku mau bawa notesnya mama aja sama bolpennya”
“OK….! (sambil pikir anakku ini kok praktis banget —mirip ibunya — taelah.)
Alhasil, sampai dengan detik dia bobo malam ini, terus mengatakan aku tidak mau pergi,
tidak mau berpisah sama mama dan papa….
Semoga besok pagi, dia tetap mau pergi begitu bertemu taman-temannya di depan bis yang akan mengantar mereka ke gunung Tsukuba. Anakku yang berumur 5tahun pertama kali perpisah dengan orang tua dan menginap dengan orang lain yang bukan saudara. Tujuan dari sekolahnya memang bagus, anak-anak dilatih untuk bisa menjadi “mandiri”, karena bulan April nanti, mereka akan menjadi siswa kelas 1 SD.
Susah deh jika si Riku sudah dalam kondisi “nangis” begini. Karena sebetulnya beberapa hari yang lalu, Riku juga sambil menangis bertanya,
“Ma, kenapa sih mama selalu pikirkan Kai saja?”
“Kai kan belum bisa apa-apa Riku. Berdiri saja belum bisa. Jadi mama harus bantu kai. Riku sudah bisa semua sendiri kan? Jadi sekarang Riku memang harus sabar karena Mama terlalu banyak pikir Kai. Tapi kalau Kai sudah bisa apa-apa sendiri, pasti mama juga pikir Riku dan Kai yang sama besarnya. Sabar ya….”
“Abis waktu itu aku harus tidur di tempat A-chan sendirian. Papa ngga ada, Mama ngga ada…. lama lagi. ”
“Loh Riku, Riku sayang A-chan ngga? Waktu itu mama kan masuk Rumah sakit. Mama ngga bisa berbuat apa-apa. Mama di atas tempat tidur terus loh. Ngga bisa kemana-mana. Kalau Riku ikut mama, Riku pasti tidak dapat makan loh. Papa juga kerja. Jadi Riku tidak bisa tunggu di rumah sendiri kan? Nanti kalau ada pencuri masuk, dan bawa pergi Riku, Mama nangis loh. Jadi lebih baik Riku tinggal sama A-chan. ”
“Huh …coba Kai tidak ada, aku bisa terus sama papa dan mama…”
Keluar deh penyataaan itu. 4 tahun semua perhatian cuma ke Riku saja. Sekarang harus berbagi (untuk bukan berbagi suami…gubrak)
Susah juga ya mempunyai anak lebih dari satu. Tapi aku kemudian menjelaskan begini,
“Riku kalau Kai tidak ada susah loh. Riku terus jadi besar, ikut mama dan papa terus….. Tapi nanti papa mama kan juga jadi kakek-nenek (kayaknya sudah mulai deh hihihi) lalu meninggal. Kalau tidak ada Kai wkatu itu, Riku sendirian loh kesepian. Makanya Riku harus baik-baik sama Kai, dan berteman. Jadi kalau ada apa-apa dengan papa dan mama, Riku selalu ada temannya, Kai.”
“Riku mau terus sama mama… terus …”
Waduh gawat dong, padahal aku sudah berusaha dengan segala macam penjelasan, sampai bisa dimengerti.
emiko a.k.a Ikkyu_san I am just an ordinary woman, who live in Tokyo with my husband and two sons. I am a lecturer, translator, and a narrator as well. I like reading, photography, philately, blogging, singing, cooking etc Read more from this author
Posted under Catatan Harian * Diary * 日記
Uhh, kawaii naa Rikuuu.
Besok ya otomari hoiku..
Aku masih ingat waktu aku otomari hoiku lho, samishii bangat walaupun ada teman2 dan sensei yang aku suka sekali.
Jadi orang tua susah ya, kalau anak mandiri juga chotto samishii tapi kalau anak tidak mau jalan sendiri juga khawatir…
Riku, ashita ganbatte ne, enjoy yak !
makasih tante… Nanti Ao-kun kan juga begitu ya…. Kalo Ao udah gede, kita pergi yuuk ke thailand lagi hihihi (ahhh mending eropa yuuk… belanda belanda…. sayang opa “meletus” udah ngga ada)
Wah susah yah jelasin ke anak itu. Kayaknya saya harus sekolah orangtua dulu nih…
Ngga usah mang kumlot. di sekolah cuman diajarin teori… yang susah prakteknya.
Karena Riku bisa menyampaikan perasaannya begini,hatinya dengan cepat bisa segar kemabali meskipun dia bingung terhadap perasaan yang mungkin baru dialaminya.
Dan bisa mencegah juga sembelit perasaannya.
Dia pasti bisa mengatasi kesepiannya besok dan sesudahnya dia bertambah percaya diri.
Karena apa yang bisa diatasi Riku untuk pertama kalinya semakin bertambah pula.
Semoga dia bisa menikmati malam yang pasti ramai dan seru dengan teman-temannya dan guru TK-nya.
Amin.
Karena udah pernah lihat betapa manjanya Riku sama Mamanya, aku jadi bisa ngebayangin wajahnya waktu bilang, “Aku nggak mau pergi”… “Kenapa Mama selalu pikirkan Kai…”
…kawaii sekali.. tapi pastinya, bikin orang yang melihat langsung tersentuh…
Ah, Sistah.
Penjelasan macam apapun sepertinya akan susah dimengerti buat anak seusia Riku. But hey, he got something to learn kan? Taruhan deh, ini karena dia lagi sensi berat menjelang acara menginap bersama untuk pertama kalinya… and I bet, he’s going to have a lot of fun!
Salam buat Riku dan Kai, ya, Emichan…
(sama si Andy juga.. hahahaha)
…dipentung sama Om dan Abang karena Lala ganjen amat jadi perempuan! hihihi
Ponakan ganjen sih, makanya om juga ganjen (kebalik yak?) anyway aku sudah sampaikan cium untuk Riku dan Kai…untuk Andy….sampaikan sendiri aja yah hihihi
ya jangan dipaksa tooohh
setujuh mastal
Tolong bilangin si Andy…
dia mau ga?
hehehehe
udah tau gue jawabannya ….no way!!!
Di foto muka Riku memelas gitu…Seolah tak mau dipisahkan sama mamanya.
Di sini sang mama menghadapi dilema, antara pura-pura tabah membiarkan anaknya pergi atau terus mengeloni anaknya di bawah ketiak. Nah lho…
bener bang… untung aku selalu pikir ini untuk kebaikan dia. pengalaman sejak umur 6 bulan riku kan harus aku titipkan. waktu 6 bl dia belum mengerti. waktu sekitar 1,5 th dia nangis terus…. aku terpaksa liat dia diseret masuk oleh gurunya. aku jg jadi ingin nangis. Sambil keluar penitipan itu aku membayangkan pikiran dia…”mama ngga sayang aku… mama tinggalkan aku dgn org 2 ini. knp mama tidak tanya aku suka atau tidak. kalau aku disuruh pilih aku akan pilih mama.” but, nak…. hidup itu kadang tidak ada pilihan. ada saatnya kita harus jalanin apa yg bukan pillihan kita.
Tapi kata Bapak Provokator Indonesia, Prasetya M. Brata, teori itu penting emiko-san. Kita bisa mengetahui banyak pengalaman orang lain tanpa harus mengalaminya sendiri. Begitu kira2… Sekolah ah….
yup teori itu juga penting tapi tidak usah melulu didapatkan di sekolah. Ngga tau ya, saya condong ke deschooling society.
setuju Mang… mari berkata positif !!!
Setuju…, Setuju…, Setuju
Komentar oleh gbaiquni — 24 Oktober 2008 @ 9:45 am
wah seperti motto saya berfikir positif…
Komentar oleh knowvie — 24 Oktober 2008 @ 12:04 pm
so….
positip tingking,
positip doing,
positip saying,
positip …
pokoknya yang positip-positip aja….
Komentar oleh ekopH — 24 Oktober 2008 @ 12:38 pm
dah lama sekali ndak nonton sinetron …. barusan baca blogger yg mengeluh soal sinetron2 di tanah air …. terakhir dulu nontonya sinetron tersanjung
Komentar oleh Elys Welt — 24 Oktober 2008 @ 1:05 pm
jd kebayang kekerasan pelajar sampe yg cewek2 segala ikutan. duuuhh………….
Komentar oleh jingga — 24 Oktober 2008 @ 2:12 pm
#gbaiquni
berkata positif mah atuh begini: positif positif positif positif……
#knowvie
Mottonya bagus…
Jadi inget dorama My Boss My Hero…
#ekopH
Betul…. apapun harus positip, Ko….
#Elys Welt
Wadoah tersanjung, Ibu gw banget… Tersanjung session terakhir malah jadi sinetron gelut (masih inget aja gw…:lol: )
#jingga
Itu mah jelas ngikutin yg di tipi2… Kasihan banget mereka…
Komentar oleh Mang Kumlod — 24 Oktober 2008 @ 4:14 pm
Be positif!!!!
Komentar oleh a3u5z1i — 24 Oktober 2008 @ 7:13 pm
hmm besok ada nonton bareng dengan deddy miswar nih di tokyo….
Komentar oleh emiko — 24 Oktober 2008 @ 7:21 pm
Kalo JANGAN di ganti dengan BISA TIDAK gimana Mang
Komentar oleh namakuananda — 24 Oktober 2008 @ 8:00 pm
setuju, gaya tarik menarik berlaku dalam jiwa kita … ketika hanya positive yang berjalan maka hasilnya juga positive
Komentar oleh Rindu — 26 Oktober 2008 @ 3:53 pm
ngeliat bagian awalnya…
*bener2 ga’ ngebayangin gajahnya kok
Komentar oleh visakana — 28 Oktober 2008 @ 9:47 am
#a3u5z1i
Yo’a. Be positif!!!!
#emiko
Woah senang sekali… gw aja belum pernah ketemu…
#namakuananda
Ga bisa! Hehehe…8x
Bergantung tipe orangnya sih menurutku: sanguin, korelis, phalmatis atau melankolis (tul ga?)
#Rindu
The power of attraction
#visakana
Hebat sekali bisa meminimumkan fungsi otak kanannya…
Komentar oleh Mang Kumlod — 28 Oktober 2008 @ 10:09 am
Setuju………
Komentar oleh mamas86 — 28 Oktober 2008 @ 2:35 pm
Jadi, ganti kalimat negatif menjadi positif. Ganti kalimat JANGAN BERISIK menjadi diam. JANGAN NAIK menjadi turun. JANGAN BERKELAHI menjadi berdamailah. JANGAN KORUPSI menjadi korupsilah… Loh? –> ini kayak ngingetin anak umur 2 taun..ga bisa diaksih kata “JANGAN” nanti malah dilakukan haha..jadi emangnya masyarakat sekarang..mandek perkembangannya dari umur 2 tahun?plis semoga enggak ya haha
Komentar oleh saskhyaauliaprima — 29 Oktober 2008 @ 9:48 pm